1. TUJUAN  :     Pedoman    Prosedur    ini    disusun    untuk    menjelaskan mengenai prosedur penanganan keadaan darurat di lingkungan Universitas Airlangga

 

 

  1. RUANG LINGKUP  :     Pedoman   Prosedur   ini   meliputi   tindakan   penanganan keadaan  darurat  yang  bersumber  dari dalam atau lingkungan sekitar Universitas Airlangga diantaranya kebakaran, peledakan, kegagalan tenaga listrik, huru-hara, keracunan makanan, bencana alam atau bahaya-bahaya lainnya

 

 

  1. TARGET MUTU  :     Menyelamatkan    sebagian    atau    seluruh    harta-benda (investasi vital), pimpinan, pegawai, dan orang lain yang berada  di  lingkungan  lokasi  terjadinya  keadaan  darurat, oleh karenanya harus diatasi dalam waktu sesingkat- singkatnya  dengan  cara  terpadu  dan  pedoman  ini hanya diberlakukan pada saat terjadi keadaan darurat.

 

 

  1. DEFINISI                       :     Pedoman Prosedur penanganan keadaan darurat adalah tata cara atau pedoman kerja dalam menangani keadaan darurat dengan tujuan mencegah dan mengurangi kerugian yang lebih besar.

 

 

  1. REFERENSI                  :

a. UU 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

b. UU  No.   24  Tahun  2007  tentang  Penanggulangan Bencana

c. Peraturan  Pemerintah  No.  50  Tahun  2012  tentang SMK3

d. Permenkes  No.   48   Tahun   2016   tentang   Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran

e. Kepmenaker.    Kep-186/MEN/1999  tentang  Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja

f.   Statuta Universitas Airlangga

g. Keputusan Rektor No.  501/H3/PR/2012  tentang Pembentukan Sub Direktorat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Direktorat Sumberdaya Universitas Airlangga

 

 

  1. DIDISTRIBUSIKAN  : KEPADA

 

 

Semua pemegang controlled copy atau unit  yang berhak memiliki dokumen sistem mutu

 

  1. PROSEDUR                   :

 

7.1      Umum

 

7.1.1   Prosedur  ini  berlaku  sejak  tanggal  ditetapkan.  Setiap  perubahan  atas  langkah  dalam prosedur dan formulir yang digunakan harus dibahas dalam forum yang ditentukan dan kemudian disahkan oleh Rektor

7.1.2   Penyusun prosedur dan pemeriksa prosedur bertanggung jawab untuk memastikan :

 

  1. a. semua personel yang terlibat dalam prosedur ini mengerti dan memahami setiap langkah dan ketentuan dalam prosedur ini.
  2. b. semua  personel  yang  terlibat  dalam  prosedur  ini  harus  memiliki  kompetensi  yang dipersyaratkan dalam dokumen wewenang dan tanggungjawab.

7.2     Pengertian

 

7.2.1. Pengertian Keadaan Darurat

 

“Keadaan Darurat” (emergency) diartikan suatu kejadian yang tidak diinginkan di dalam laboratorium, ruang kelas perkuliahan, perkantoran dan fasilitas pendukung yang disebabkan oleh suatu kejadian dari dalam/luar (seperti kebakaran, peledakan, kegagalan tenaga listrik, huru-hara, keracunan  makanan,  bencana  alam  atau  bahaya-bahaya  lainnya)  dimana  sumber  tenaga  dan sarana dari fasilitas di tempat kerja mampu untuk menanggulangi akibat dari suatu kondisi yang tidak normal.

7.2.2. Penanganan Keadaan Darurat

 

Penanganan keadaan darurat yaitu pemberian bantuan sementara sebelum memperoleh perawatan medis dari seorang ahli yang berwenang. Pertolongan ini juga dimaksudkan untuk memberikan ketenangan pada korban, mengurangi rasa takut dan kegelisahan, dan mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya yang lebih serius. Ketepatan tindakan pertolongan pertama sangat mempengaruhi penyembuhan, cepatnya penyembuhan bahkan dapat menyelamatkan jiwa korban.

7.3.   Pelaksanaan

 

7.3.1. Penanganan Kejadian Bahaya Kebakaran Atau Ledakan

 

  1. Jangan Panik, Usahakan  tetap  tenang

 

  1. a. Ingat setiap kepanikan  akan  mengurangi daya  fikir  dan  gerak  anda b. Pastikan  lokasi kebakaran
  2. c. Keluarlah menuju titik kumpul (assembly point)

 

  1. Jangan menggunakan lift

 

  1. Bunyikan alarm

 

  1. a. Alarm dibunyikan guna memberitahukan  kebakaran  dan  melakukan tindakan pengamanan.
  2. b. Usahakan melokalisir / membatasi daerah  kebakaran  guna  mencegah  menjalarnya  api lebih  luas.

 

 

 

  1. Pergunakan alat pemadam  api  ringan  ( APAR )

 

  1. a. Kecepatan, keamanan dan  ketepatan  menggunakan  APAR  akan  berpengaruh  dalam pemadam  kebakaran.
  2. b. Jika api masih berkobar / membesar,  segera  usahakan  pemadam api dengan  peralatan yang  lebih  memadai.
  3. c. Hindari menjadi korban yang  sia – sia  akibat  kecerobohan  diri sendiri sehingga terjebak  dalam  kebakaran  api.
  4. Matikan aliran listrik,  gas  dan  aliran  bahan  bakar

 

  1. a. Dalam kebakarn kita  harus  berusaha  mengurangi segal kemugkinan  dapat membesarkan  api dan  jatuhkan  korban  bahaya  lainnya.
  2. b. Segera putuskan / matikan  aliran  listrik  pada  saklar  induk  dan  disegel,  pastikan sekring  tidak  dipegan
  3. Beritahukan dinas kebakaran

 

Untuk  menanggulangi  bahaya  kebakaran  yang  besar   dibutuhkan  bantuan  dari dinas kebakaran  jika  dibutuhkan.

  1. Melaporkan kejadian tersebut  pada  Pimpinan  dan Koordinator  untuk ditindak lanjuti.
  2. Hubungi pihak kepolisian  setempat

 

  1. a. Usahakan orang – orang yang  tidak  berkepentingan  dilarang  keluar atau  masuk area  kerja.
  2. b. Dilarang keluar atau masuk area  kebakaran  guna  penyelidikan  dari pihak kepolisian.
  3. c. Melokalisir, membatasi area kebakaran,  gunakan  iota  polisi  (police line)

 

 

  1. Segala tindakan agar tidak  terlepas  dari  petunjuk  atasan  dan  pihak  manajemen

Area  kerja.

 

 

7.3.2. Penanganan Kejadian Huru Hara

 

Tindakan Umum:

 

  1. Kepala Satpam mengkoordinir  para  anggotanya  dan  bekerjasama  dengan  Koordinator Tanggap Darurat untuk menyiapkan regu tanggap darurat untuk stand by bilamana diperlukan.
  2. Satpam bekerjasama dengan protokoler untuk mengisolasi tempat-tempat berkumpulnya karyawan dan massa melalui penutupan pintu-pintu yang diperlukan.

 

  1. Satpam akan menghubungi kantor Kepolisian terdekat untuk minta bantuan pengamanan bila diperlukan.
  2. Satpam mengamankan aset perusahaan, anggota  manajemen  dan  karyawan  perusahaan saat terjadinya huru hara.

Indikasi Penyimpangan Unjuk Rasa:

 

  1. Tidak mematuhi ketentuan

 

  1. Tidak membawa alat/senjata penyerang namun melakukan tindakan memancing keributan

 

  1. Tidak bersedia mengikuti arahan himbauan petugas perusahaan

 

  1. Peserta unjuk rasa yang terorganisir dan bergerak mengganggu operasi pabrik

 

 

 

Koordinasi

 

  1. Perkiraan taktis situasi yang dihadapi.

 

  1. Tindakan anggota satpam dan petugas tanggap darurat

 

  1. Pembagian tugas tiap anggota (tim) yang ikut dalam penanganan huru-hara

 

  1. Meminta batuan anggota kepolisian.

 

  1. Melaporkan hasil negosiasi kepada wakil manajemen untuk tindak lanjut

 

  1. Memberi kesempatan pimpinan unjuk rasa menertibkan massanya

 

  1. Bila ada anggota kepolisian lakukan penertiban bersama.

 

 

 

Penertiban

 

  1. Bila gagal penertiban melalui negosiasi, maka komandan regu mempersiapkan tindakan penertiban.
  2. Pasukan membentuk formasi bersaf merapat dengan lengan saling mengunci.

 

  1. Komandan regu memberi seruan peringatan kepada pihak yang melakukan unjuk rasa.

 

  1. Perlengkapan: tongkat dan gas air mata untuk digunakan, bila perlu

 

  1. Upaya penertiban dilakukan sedapat mungkin tanpa kekerasan

 

 

 

Konsolidasi

 

  1. Setelah massa bubar, adakan apel/rapat konsolidasi untuk mengantisipasi kemungkinan adanya aksi lagi atau kegiatan lainnya.
  2. Patroli untuk mencegah massa berhimpun kembali. Usahakan patroli dalam berkelompok dalam jumlah tertentu.

 

7.3.3. Penanganan Kejadian Kegagalan Tenaga Listrik

 

  1. Kasubdit Pengelolaan Sarana Prasarana mengkoordinir tindakan untuk menormalkan kembali kegagalan tenaga listrik dan air.
  2. Pengkoordinasian pengguna tenaga untuk mesin-mesin AC, penerangan dan sarana penunjang lain harus dilakukan bersama untuk menjamin tidak terganggunya operasional Universitas.
  3. Bila terjadi kegagalan tenaga (Total Power Failure), pada keadaan ini semua tenaga listrik terputus dan mungkin akan timbul kebakaran misalnya karena kehilangan air pemadam, maka Kasi Perlengkapan diinstruksikan untuk menghidupkan mesin pembangkit tenaga listrik untuk mengisi pipa Air Pemadam Kebakaran.

 

 

7.3.4. Penanganan Kejadian Keracunan Makanan

 

  1. Pasien yang mengalami keracunan makanan akan disarankan beristirahat , dikirmkan ke PLK Universitas Airlangga untuk dilakukan beberapa hal berikut :
  2. a. Cek tensi, nadi dan kesadaran pasien b. Memberikan obat sementara
  3. Untuk bahan pemeriksaan

 

  1. a. Memberikan tempat khusus  untuk  menampung  muntahan/feses  dari tiap  pasien  dan dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan bakteriologi dan toksikologi
  2. b. Mengumpulkan sample makanan  dari  catering  dan  dikirm  ke  laboratorium  untuk pemeriksaan bakteriologi dan toksikologi
  3. Apabila yang dialami semakin parah maka disarankan untuk dikirmkan ke RSUA atau RSU Dr. Soetomo Surabaya

 

 

7.3.5 Penanganan Kejadian Bencana Alam

 

  1. Penanggulangan banjir

 

  1. a. Koordinasi yang baik antara pihak Universitas Airlangga dengan tim SAR, PMI dan juga pemerintah kota Surabaya untuk melakukan pencarian dan penyelamatan korban banjir
  2. b. Mengamati kondisi lingkungan termasuk pond/kolam yang ada di dalam lokasi perusahaan serta sungai/kali sekitar perusahaan
  3. c. Pendataan korban dan pendataan logistik

 

  1. Melakukan analisis terhadap kerusakan yang terjadi, membangun kembali infrastruktur dan meminta dukungan dari lembaga lain untuk membantu korban pasca banjir.
  2. e. Peralatan dan instalasi listrik dimatikan agar tidak menimbulkan bahaya tersengat listrik

 

  1. f. Jika terjadi penghentian kegiatan atau aktifitas di lingkungan Universitas Airlangga, maka perlu dilakukan pengamanan.

 

  1. Melakukan pemulihan kondisi

 

  1. Penanggulangan gempa bumi

 

  1. a. Ketika pertama kali terjadi getaran gempa, usahakan untuk tetap tenan

 

  1. b. Jika berada di dalam bangunan, maka carilah pintu darurat untuk menyelamatkan diri atau berlindunglah di bawah meja yang kokoh.
  2. c. Jika sedang berada di luar bangunan, segera cari tanah lapang, jangan berlindung di bawah pohon atau di bawah jembatan, serta usahakan dalam posisi
  3. Setelah terjadi  gempa   segera   periksakan   diri   ke   posko   kesehatan   terdekat   untuk mendapatkan pengobatan apabila mengalami luka.
  4. e. Carilah informasi dari radio atau televisi. Jika masih dimungkinkan gempa susulan yang kuat.
  5. Penanggulangan tanah longsor

 

  1. a. Menjauhi dan menyelamatkan diri dari daerah longsoran b. Membantu tim SAR menuju lokasi longsor
  2. c. Membantu civitas akdemika yang tertimpa longsor

 

  1. Melaporkan fasilitas apa saja yang rusak akibat longsor.

 

  1. e. Pencarian korban longsor  dan  memperbaiki  kembali  infrastruktur  yang  rusak  akibat longsor.

7.4 Nomor yang bisa dihubungi saat terjadi keadaan darurat

 

Nomor yang bisa dihubungi saat terjadi keadaan darurat di lingkungan Universitas Airlangga yaitu 112.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *